Langsung ke konten utama

Kisah Sepatu

Kisah Sepatu
Karya : Allaya Fira Annisa
SEQUEL Of MENDOAKANMU DARI SINI

~ Suatu yang berbeda dan dipaksakan bersatu takkan berakhir manis. Memilih mundur sekarang, atau lebih tersakiti. Tuhan maha adil. Biarlah aku pada batasanku, dan kamu dalam batasanmu. Ingatlah, kita bagai mengukir kisah sepatu, saling bersama, berjuang bersama, namun langkah takkan pernah sama ~

        Hubungan kami berjalan hingga 6 bulan lamanya. Banyak kenangan manis yang tercipta diantara kami. Dia memang pria yang cukup baik di mataku, setidaknya itu yang bisa ku katakan tentangnya, jarang lelaki yang seperti dia. Dia bisa menjadi pacar sekaligus sahabat terbaik dalam hidupku.

        Masalah..... ya... di hubungan kami yang ke 6 bulan, kami sering mempertimbangkan bagaimana baiknya. Ya, aku dan dia memiliki perbedaan yang cukup kuat. Perbedaan yang tak pernah bisa disatukan, apalagi disamakan. Aku setia dengan percayaku pada Tuhanku, dan dia setia dengan percayanya pada Tuhannya. Setidaknya, mungkin semuanya kan berakhir hingga ayah mengetahuinya. Sekarang dia berkunjung di rumahku. Aku bisa memakluminya.... dia dan aku beda sekolah. Stau lago, dia tipikal pria NEKAT. Apapun yang ia kehendaki, tak ada yang boleh menghalanginya.


“ Edward..... “ dia menoleh menatapku.... ohhh jangan tatap aku seperti itu... kumohon...

“ Hem... apa sayang.... “

“ Apakah kamu nyaman dengan hubungan ini? “ entah mengapa perasaanku buruk. Akhir akhir ini aku merasakan ada yang mengganjal dalam hatiku.

“ Yah nyaman lah yang, apa yang kamu takutin....? “ tanyanya.... bahkan aku sendiri bingung, apa yang aku takutkan.

“ I don’t know, beib... lupain aja kalo gag nyaman sama pertanyaan tadi, ok “ ucapku mentapnya. Kami melanjutkan kediatan kami, memandang senja bersama, melihat berakhirnya hari ini bersama. Setidaknya itu yang membuat kami masih bersama, hingga saat ini. Pecinta SENJA.......

***
        Hari ini adalah hari kepulangan ayah dari dinas luar kota. Ayah tipikal pria yang cukup sibuk, tapi selalu menyempatkan diri untuk keluarga, BIG HUG Dady...... ayah adalah satu satunya lelaki yang semua keinginannya tak bisa kutolak. Aku sendiri terkadang bingung, mengapa semua orang saja bisa kutentang, tapi lain dal dengan ayah, mungkin beliau terlalu istimewa dalam hidupku, mungkin..... Aku mengambil tangan ayah untuk salim. Ayah menatapku lesu. Ada apa dengannya. Biasanya bila melihatku dan Akhtar -Adikku- pasti senyum, yah meskipun tipis sih.

        Denting sendok dan garpu berpadu di piring kami masing masing. Keheninggan pun tak terhindarkan, kata ayah... makan sambil berbicara itu tidak baik. Aku mematap ayah yang menatapku tajam. Ayah penuh tanda tanya. Akhirnya makan kami pun selesai. Ayah memanggilku.


“ Annisa..... “

“ Ya Ayah... ada apa.... “ aku menatap ayah. Entah mengapa rautnya seperi menahan amarah. Nyaliku ciut seketika.

“ Jawab pertanyaan ayah dengan jujur. Apakah kamu berpacaran dengan orang yang tak seiman denganmu, sayang??? “ aku kaget. Bahaya....

“ Dari mana ayah mengetahuinya.... “ ucapku lirih. Aku takut dengan ayah. Kurasa ada yang tidak beres.

“ Jawab pertanyaan ayah dengan jujur, Annisa. Bahkan... darimana ayah tau  itu tidak penting. “ ucap ayah dingin. Lebih dingin dari biasanya.

“ Iy.... yaa... ayah..... “ aku gugup sekaligus takut teramat sangat. Lalu bagaimana aku, dengan Edward?

“ Em, Annisa.... apakah ayah belum pernah mengingatkanmu tentang tidak boleh memiliki hubungan istimewa dengan seseorang yang berbeda dengan kita? “ aku mengangguk. Ayah benar. Sebelum aku dan Edward memutuskan menjalin hubungan bersama, ayah pernah berkata seperti itu. Ia mengizinkanku menjalin hubungan kasih hanya untuk sesamaku.

“ Tapi yah.... dia baik. Dia sering menjaga Annisa, yah.... “ aku mencoba membela dia dan diriku tentunya.

“ Hem.... Annisa.... apakah kau bisa menjanjikan dia lelaki baik baik? Tidak Annisa, tidak. Inilah yang ayah takutkan. Putri ayah merasakan jatuh cinta. Diusiamu seperti sekarang, hal yang paling ayah takutkan yaitu kamu jatuh cinta. Dan ditambah jatuh cinta pada orang yang berbeda dengan kita. Ayah hanya tidak mau, putri satu satunya ayah akan semakin dalam mencintai lelaki itu dan setiamu pada Tuhan meluntur. Apakah kamu mengerti? “ aku jadi ingat, sholatku sekarang tak tepat waktu karena harus berbicara dahulu dengan Edward. Dan perlahan aku sadar, inilah yang dimaksud ayah.

“ Lalu, apa yang harus Annisa lakukan ayah? “

“ Lepaskan dia, dan alangkah baiknya kalian hanya sebagai sahabat. “ ucapan ayah membuat mataku membulat. Mana mungkin aku melupakannya dengan mudahnya. Mana bisa????

“ Yah.... aku bisa pastikan, dialah yang akan mengikutiku. Dan dia menyesuaikan dan menyamakan perbedaannya dan menyamakannya sepertiku, ayah.... “ ayah tersenyum getir melihatku.

“ Ayah tak yakin sayang..... “

“ Ayahmu itu benar sayang, sekarang kamu bantu bunda cuci piring dan temani bunda. Yuk “ ucap bunda sembari menyeretku. Kebiasaan.


        Kami sampai di tempat cuci piring. Bunda masih bersenandung ringan. Aku benci dengan senandung bunda, bukan karena suaranya jelek, suaranya sebenarnya sangatlah merdu, cuma... beliau selalu menyanyikan lagu ndangdut klasik. Kami satu rumah membenci nyanyian mama, selalu berbau ngdangdut.


“ Bunda.... jangan nyanyi.... aku lagi bosen nih... mana ayah melarang hubungan kami... huh.... sebel deh bunda “ ucapku mengadu. Ya inilah kebiasaanku, selalu mencari perlindungan, mau itu dengan siapapun.

“ Kenapa honey? Bete karena disuruh putus sama ayah? “ aku mengangguk. Toh memang itu kenyataanya.

“ Huh.... princess nya bunda bete. Gini lo sayang.... bunda pernah trauma. Sahabat bunda jatuh cinta mati sama suaminya sekarang. Awalnya mereka seperti kamu dan Edward, tapi sahabat bunda memilih meninggalkan Tuhan dan mengikuti agama suaminya sekarang. Ayahmu hanya kawatir sayang. Dia hanya menginginkan yang terbaik untukmu. Ayah sangat menyayangimu, sayang.... tolong... jangan mengecewakan ayah, atau bunda sekaligus “ aku mengangguk.

“ Duh nih ya, padahal bunda itu terlanjur srekkkk lo sama Edward. Dia begitu menyayangimu. Gag pernah buat princessnya bunda sakit hati “ dalam hati aku membenarkan itu. Lah kok nglantur...

“ Ahhh bunda... “

“ Sorry honey.... just kidding... “ aku mendengus sebal. Bunda memang ibu sekaligus sahabat terbaikku.

***
        Pagi sekali aku menelfonnya. Aku mengucapkan banyak kalimat perpisahan untuknya. Sungguh berat harus kehilangannya. Dia tak terima. Pagi itu juga dia ke rumahku, dan berusaha protes dengan ayah. Saat ini ayah sedang bersantai dengan kopinya dan koran online di smartphone miliknya. Tak aku sangka dia berucap sopan dengan ayah dan sekarang bunda lah yang menemani kami, itu pun perintah ayah. Katanya sih takut ada pihak ketiga -Setan-. Ayah menyuruh bunda yang menemui Edward. Aku tau ayah, dia memang tak bisa bergaul dengan seusiaku. Bunda bisa pun mungkin karena terlalu kekanak - kanakan. Bunda memulai pembicaraannya pada Edward.


“ Edward.... begini. Cinta itu tak harus memiliki. Dari awal hubungan ini juga sudah salah sayang... “ bunda mencoba tidak emosi dengan kekeras kepalaan kekasihku, ekhm yang sebentar lagi menjadi mantan.

“ Kamu tau kisah sepatu? Karena hanya memiliki arah yang berbeda, mereka tak bisa berjalan seiringan dan bersatu bukan? “ kami berdua mengangguk.

“ Begitupun dengan kalian, bukannya tante mendahului takdir Tuhan, tapi, kalian ini terlahir sudah berbeda paham. Kalian beda agama “

“ Loh tan, bukankah perbedaan malah bagus, melengkapi satu sama lain? “ ucap Edward membantan.

“ Tapi bukan untuk hal yang ini, untuk perbedaan ini tak pernah bisa disatukan sayang. Dengar. Apakah kamu mencintai putri tante? “ dia mengangguk yakin.

“ Apakah kamu ingin Annisa bahagia? “ dia mengangguk yakin.

“ Apakah kamu ingin Annisa dimarahi ayahnya karena masih berhubungan denganmu? “ dia menggelengkan kepalanya kuat. Syukurlah.... dia bukan tipikal pria egois.

“ Kalau seperti itu, lepaskan dia..... perlahan lahan. “ dia setuju. Aku merasa sedih dengan hal itu. Dia sepertinya menyadari hal itu. Aku mencoba ikhlas dengan kejadian hari ini.

“ Tan.... apakah saya masih diizinkan berbicara dengan Annisa, please tan... saya pastikan ini untuk yang terakhir. “ beliau mengangguk. Aku tersenyum. Setidaknya, kami masih diberi kesempatan berucap kata perpisahan. Mama meninggalkan kami berdua memberikan waktu untuk perpisahan.

“ Sa.... aku sadar, hubungan kita dari awal memang sudah salah. Salah bila kita masih tetap bertahan. “ aku tersenyum miris, seindah apapun perpisahan, pasti kesedihan selalu menyertainya.

“ Ya, aku sadar, baik kita menjadi sahabat. Apaakah kamu setuju? “

“ Ya.... jika aku tak setia dengan Tuhan, mana mungkin aku bisa setia bersamamu? Kau juga seperti itu. Janganlah ulangi kesalahan ini untuk yang ke dua kalinya. Aku pastikan ini kesalahan kita yang terakhir, janji? “ dia mengulurkan kelingking kanannya. Aku menautkan dengan kelingking kananku juga.


“ Janji...... “ ucapku sembari tersenyum. Terkadang perpisahan tak harus dipenuhi rasa kecewa. Aku sadar. Dari awal memang kami salah. Hati memang tak bisa berdusta. Aku menyadari itu. Kami memutuskan berpisah dan menjadi sahabat. Kisah sepatu yang takkan terlupakan ini akan menjadi kisah yang akan kuingat sepanjang hidupku. Kisah cinta yang tak pernah bisa bersatu. Saling mencintai, namun tak bisa saling memiliki. Terkadang, melihatnya tersenyum saja, membuatku sedikit bahagia, sedikit. Biarlah kisah sepatu ini mengajarkan bahwa sesuatu yang salah akan berakhir kesedihan, entah dalam ataupun dangkal.

Komentar

  1. cerpennya keren kak, dikemas dengan kata kata yang indah membuat cerpen kaka semakin menarik :)

    BalasHapus

Posting Komentar